Dr. Lieke Riadi, Wakil Rektor I Universitas Surabaya, yang juga Fellow LEAD, bulan November lalu mengikuti World Science Forum di Budapest. Berikut ‘oleh-oleh’ dari Ibu Lieke, seperti yang disampaikannya kepada LEAD Indonesia. Ada enam topik yang dibahas dalam forum yang sangat bergengsi ini: Pembicara-pembicara yang tampil untuk tiap-tiap topik adalah pembicara yang diundang dan dikenal telah banyak melakukan sesuatu di dunia sains. Pada kesempatan ini, Wakil Rektor I Universitas Surabaya, Dr. Lieke Riadi yang juga LEAD Indonesia Fellow mendapat kehormatan untuk menjadi pembicara pada sesi Educating Future Generations dengan bahasan yang lebih khusus yaitu Responsibility of Education, sekaligus terpilih untuk menyampaikan rekomendasi umum dan khusus serta kesimpulan untuk sesi tersebut di Gedung Parlemen Hungaria pada tanggal 12 November 2005. Berikut ini adalah hasil dari World Science Forum yang diadakan pada tanggal 10-12 November 2005. Sains sudah terbukti memegang peran besar dalam keputusan-keputusan yang diambil terkait dengan kebijakan publik sejak pengenalan bom atom sampai stem cells. Interaksi antara ilmuwan dan pengambil keputusan untuk kebijakan publik selama ini tidak pernah berjalan dengan mudah. Ilmuwan sering merasakan kebijakan publik yang dibuat tanpa pemahaman isu-isu sains yang semestinya. Sedangkan, para professional pembuat kebijakan dan pengambil keputusan kadang-kadang juga cenderung untuk mengabaikan pandangan ilmuwan karena dianggap terlalu sempit. Empat stakeholder yang terdiri dari ilmuwan, pembuat kebijakan , media, dan publik secara keseluruhan tidak dapat bekerja dengan nyaman satu dengan yang lainnya. Contohnya., proyek besar seperti US Manhattan Project (proyek pembuatan bom atom) yang melibatkan ketegangan antara ilmuwan dan politikus serta militer, dan pendaratan di bulan merupakan respon pengambil keputusan untuk hal-hal besar terkait dengan sains dan berfokus pada satu kejadian saja, saat ini sudah bukan lagi model yang terbaik. Human Genome Project merupakan contoh aktivitas sains yang dimulai dengan inisiatif pemerintah dengan melibatkan banyak ilmuwan dan ketika potensi penghargaan ekonomi mulai nampak, pihak industri swasta mulai memasuki area ini. Mitra yang setara antara penghasil pengetahuan dan pengguna pengetahuan yang ditujukan untuk menghasilkan interaksi yang humanistik, tidak saling mengeksploitasi dan berfokus pada interdependensi dan etika diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara sains dan bisnis. Dengan populasi global yang sudah melewati 6 milliar pada awal abad ini dan diperkirakan akan mencapai 9 milliar pada tahun 2050, yang hampir 90 % dari populasi ini berada di negara-negra berkembang, sains dihadapkan dengan keadaan untuk menemukan solusi dari masalah-masalah ini. Pembangunan kapasitas manusia di negara-negara berkembang menjadi isu penting karena sudah bertahun-tahun negara-negara ini dihadapkan dengan masalah ”brain drain’, hilangnya ilmuwan-ilmuwan hebat ke negara-negara yang lebih berkembang. Pengalaman Cina, India dan Korea Selatan sudah berhasil menunjukkan kemampuan untuk mengubah ”brain darin” menjadi ”brain gain” dan ”brain circulation” dengan membuat strategi yang efektif untuk menghubungkan ilmuwan-ilmuwannya yang tersebar untuk keuntungan negaranya. Pembangunan kapasitas manusia dan institusi harus diarahkan dengan kebijakan nasional yang memadai yang merupakan bagian terintegrasi dengan tujuan pembangunan nasional. Oleh karenanya, negara-negara berkembang harus mempunyai keyakinan bahwa investasi di sektor Pendidikan Tinggi dan penelitian ilmiah untuk pembangunan berkelanjutan, pengembangan ekonomi dan sosial adalah hal yang berharga. Mengapa? Dengan populasi yang sangat besar di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dengan penduduk yang hidup dalam kondisi ”dual economy”, ”dual society” yang dapat digambarkan sebagai ”dysfunctional world” dan pemakaian sumber daya alam yang berdampak pada polusi di buangan yang dihasilkan, upaya-upaya ”penyelamatan” dengan dukungan komunitas ilmuwan sangat dibutuhkan. Dalam jangka panjang, pendidikan yang memadai pada semua level akan membantu mengubah pemahaman kita tentang hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam. Akan sangat sulit terjadi pembangunan yang berkelanjutan tanpa adanya perubahan fundamental di pendidikan. Oleh sebab itu, untuk mendidik generasi mendatang dibutuhkan model yang dapat mengatasi akses yang tidak merata ke dunia sains dan pendidikan. Meningkatkan kapasitas generasi mendatang dengan memberi kesempatan bagi ilmuwan yang lebih berpengalaman dengan orang-orang muda untuk berinteraksi, berkomunikasi dan berbagi pandangan karena melalui cara-cara seperti ini, generasi mendatang dapat merasakan pentingnya untuk memperkuat kerja sama, membangun kepercayaan dan menemukan mentor yang baik, yang hasilnya tidak hanya akan membuat generasi muda menjadi aktif di bidang keilmuan, tetapi juga menjadi ilmuwan yang bertanggung jawab dengan hasil-hasil penemuan ilmiahnya dan memperoleh keuntungan dari kontibusi mereka yang unik. Sebagai penutup, kekhawatiran akan ancaman ke depan tentang apa yang terjadi jika pengambil keputusan menggunakan sains untuk hal yang membahayakan ? Apa yang terjadi jika eksplorasi alam dilakukan dengan tidak bertanggung jawab ? Apa jadinya jika penelitian uranium dipakai dalam sebuah proyek yang melibatkan banyak ilmuwan dan hasilnya digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Apa jadinya jika generasi mendatang tidak mampu menjadi penyelesai masalah untuk perubahan yang terus menerus ? Jawabnya terletak pada : ”It’s not a disaster of science, but it’s a disaster of mankind”. Oleh sebab itu, pengetahuan, etika dan tanggung jawab merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan yang perlu digaris bawahi adalah perlunya kerja sama antara ilmuwan, politikus, media dan masyarakat untuk memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambil dengan dukungan sains dilakukan untuk keberlanjutan kehidupan masa depan.![]()
Di negara berkembang seperti Indonesia, untuk memperkuat kemitraan antara pendidikan dan bisnis , mutlak dibutuhkan pengembangan infrastruktur pendidikan, dan pendirian pusat-pusat dengan standar yang tinggi untuk keperluan akses informasi dan transfer pengetahuan yang optimal di tingkat regional.
(Oleh : Dr. Lieke Riadi)
Rabu, 08 April 2009
World Science Forum
Diposting oleh Rizkadana di 02.27
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar