THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 04 Februari 2009

Sekilas Ufo

INILAH.COM, Jakarta – Kontak pada makhluk pintar di luar bumi sudah dilakukan nenek moyang kita sebelum munculnya demam UFO. Ilmuwan sudah melakukan komunikasi 150 tahun sebelum pengiriman sinyal radio ke luar angkasa pada 1974.

Percobaan komunikasi di masa lalu berdasarkan pada sinyal visual. "Manusia melakukan dengan pengetahuan yang dimiliki pada saat itu," kata Steven Dick, kepala ahli sejarah NASA.

Pada dua ribu tahun lalu, orang Yunani sudah melihat adanya kehidupan di planet lain. Tapi pemikiran itu baru popular setelah revolusi Copernicus.

“Setelah diketahui planet mengitari matahari, menjadi mudah membayangkan planet lain akan serupa dengan bumi,” kata Dick.

Galileo, Kepler dan ilmuwan lain yakin ada planet lain yang bisa dihuni, meskipun sangat berhati-hati agar tidak menyinggung pihak rohaniawan. "Pemikiran itu bersemi pada abad 17 tapi masih menjadi kontroversi," kata Dick yang menulis beberapa buku mengenai hal itu.

Salah satu pendukung kehidupan makhluk luar angkasa adalah Bernard le Bovier de Fontenelle yang menulis di Conversations on the Plurality of Worlds pada 1686. Tapi belum ada catatan bagaimana manusia masa lalu mencari atau menghubungi makhluk di luar bumi.

"Pada awal abad 19, ilmuwan menggunakan sky telegraph untuk berkomunikasi dengan planet yang diperkirakan berpenghuni,” kata Raulin-Cerceau yang menulis di majalah Prancis Pour la Science.

Ilmuwan pembuat perangkat itu pertama adalah Carl Friedrich Gauss, seorang ahli matematika Jerman. Pada 1820 ia berbicara pada pantulan sinar matahari yang diarahkan ke suatu planet tertentu, melalui perangkat yang dinamakan heliotrope. Dia juga yang memiliki ide untuk membuat segitiga raksasa di hutan Siberia dan menaruh tepung di dalamnya.

"Warna yang kontras itu seharusnya bisa dilihat dari bulan atau Mars dan bentuk geometis akan diartikan sebagai hal yang dibuat secara sengaja,” tulis Raulin-Cerceau.

Dua puluh tahun berikutnya astronomer Joseph von Littrow memiliki ide serupa dengan menaruh minyak bakar ke kanal berbentuk lingkaran sejauh 30 km yang dinyalakan di malam hari untuk memberi tanda.

Jari Panjang, Sukses Jadi Pialang

Jari Panjang, Sukses Jadi Pialang
Budi Winoto

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta– Panjang jari manis manusia mungkin bisa memprediksikan kesuksesan sebagai pialang saham. Peneliti di Universitas Cambridge di Inggris melaporkan, orang yang memiliki jari manis panjang cenderung lebih sukses di bursa saham.

Penelitian itu dilaporkan oleh tim yang dipimpin physiologist John M Coates di National Academy of Sciences.

Sebelumnya panjang jari manis juga diasosiasikan dengan keunggulan di bidang olah raga yang membutuhkan kompetisi keras semacam sepak bola atau basket.

Rasio panjang antara dua jari, terjadi saat pengembangan fetus. Dan yang memiliki jari relatif lebih panjang menunjukkan kuatnya hormon androgen.

Penelitian sebelumnya mendapati hormon itu meningkatkan percaya diri, keberanian mengambil resiko, pencarian yang tak kenal lelah, motivasi tinggi dan reksi yang cepat.

Dalam penelitian terpisah tahun lalu, Coates dan sejawatnya melaporkan hormon yang mendorong agresifitas laki-laki dan ketertarikan seks juga mendorong kesuksesan di bidang keuangan.

Penelititian terhadap pialang di bursa London itu dengan mengambil contoh ludah di waktu pagi dan malam. Mereka mendapati, bagi pialang yang memiliki tingkat testosteron tinggi di pagi hari, cenderung mendapat profit tinggi pada hari itu.

Testosteron yang dikenal sebagai hormon seks laki-laki mempengaruhi agresifitas, kepercayaan diri dan keberanian mengambil resiko.

Dalam penelitian baru itu, peneliti mengukur tangan kanan 44 pialang laki-laki yang berhubungan dengan transaksi yang berhubungan dengan keputusan dan reaksi fisik yang cepat.

Selama 20 bulan, bagi yang memiliki jari lebih panjang membuat 11 kali lebih banyak uang dibandingkan yang berjari pendek. Sedangkan pialang yang paling berpengalaman membuat 9 kali lebih banyak dibandingkan yang kurang