THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 09 April 2009

Akhir Drama Penemuan HIV

Persaingan Luc Montagnier dan Robert Gallo, dua penemu human immunodeficiency virus, virus penyebab AIDS atau acquired immune deficiency syndrome, berakhir sudah. Montagnier memperoleh Hadiah Nobel Kedokteran 2008 bersama asistennya, Francoise Barre-Sinoussi, sementara Gallo harus gigit jari. Mengapa begitu?

Dewan juri Hadiah Nobel Kedokteran di Stockholm, Swedia, sama sekali tidak menyebut nama Gallo dalam penjelasan mereka. Padahal, tanpa peran Gallo dalam menemukan interleukin-2 tahun 1975 dan teknik membiakkan kultur retrovirus manusia, Montagnier dan timnya di Institut Pasteur Paris tak akan berhasil menumbuhkan biakan HIV.

Ironisnya, Barre-Sinnousi justru pernah magang di laboratorium National Institute of Health (NIH) di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat (AS), yang dipimpin Gallo. Tragisnya lagi bagi Gallo dan para ilmuwan AS, kasus-kasus pertama AIDS--yang waktu itu belum diberi nama AIDS, melainkan gay syndrome karena dilaporkan menjangkiti komunitas pria homoseksual--jutru ditemukan tahun 1981 di New York dan California.

Keputusan dewan juri Hadiah Nobel Kedokteran tahun ini memang agak aneh karena separuh hadiahnya diberikan kepada Harald zur Hausen yang meneliti HPV atau human papilloma virus, salah satu penyebab utama kanker leher rahim. Sementara Montagnier dan Barre-Sinoussi memperoleh separuh sisanya sehingga harus dibagi di antara mereka berdua. Dari besaran masalah yang ditimbulkannya, jelas HIV jauh lebih besar ketimbang HPV. HIV juga lebih serius dibanding bakteri Helicobacter pylori, penyebab tukak lambung dan tahun 1994 diakui WHO dapat menyebabkan kanker--yang tahun 2005 mengantar Barry J Marshall dan Robin Warren memperoleh Nobel Kedokteran.

Seharusnya Panitia Nobel Kedokteran memberikan penghargaan lebih awal dan secara utuh (tidak dibagi separuh kepada temuan virus lain) kepada Montagnier dan dua asistennya. Selain Barre-Sinoussi, sebenarnya peran Jean-Claude Chermann juga amat menentukan dalam penemuan lymphadenopathy-associated virus (LAV), nama awal HIV versi Montagnier. Dinamakan LAV karena virus itu dibiakkan dan diambil pada tanggal 3 Januari 1983 dari cairan kelenjar getah bening (limfa) yang membenjol di leher seorang perancang busana Paris bernama Frederic Brugiere. Pria homoseksual berusia 33 tahun ini mengaku melakukan hubungan seks sejenis dengan 50 orang pria dalam setahun, dan tahun 1979 ia berfoya-foya di kota New York.

Kependekan nama Brugiere, BRU, menjadi begitu terkenal dalam silang sengketa antara Montagnier versus Gallo karena sampel virus berkode BRU pernah dikirim oleh Institut Pasteur Paris ke laboratorium Gallo, dan ternyata oleh Gallo virus itu kemudian dibiakkannya dan tanggal 24 April 1984 diklaim sebagai virus penyebab AIDS temuannya. Waktu itu Gallo masih menamakannya HTLV (Human T Lymphotropic Virus) III karena menganggapnya masih serumpun dengan HTLV I dan II, dua tipe retrovirus penyebab leukemia yang ditemukannya menyusul kematian adik perempuannya akibat leukemia. Berkat publisitas yang gencar, masyarakat AS dan dunia waktu itu percaya bahwa penemu virus penyebab AIDS adalah Gallo dan timnya.

Sudah diramalkan

Dalam tulisan "Dua Kemenangan Montagnier" (Kompas, 5/1/1993) sudah diungkapkan betapa pada Mei 1983 Montagnier dan timnya sudah memublikasikan bahwa mereka berhasil mengisolasi LAV yang diduga menjadi penyebab AIDS di jurnal Science. "Tentu saja terjadilah pertarungan gengsi untuk memperoleh pengakuan dunia, siapa yang pertama kali menemukan virus penyebab AIDS. Karena bukan mustahil sang penemu nantinya akan memperoleh Hadiah Nobel bidang Kedokteran." Ramalan Kompas bahwa Montagnier dan timnya amat pantas memperoleh Nobel Kedokteran, sementara peluang Gallo justru sudah pupus (Kompas, 21/11/1993) terbukti benar!

Setelah tujuh tahun terjadi "duel transatlantik" (istilah majalah Time 20/5/1991), akhirnya memang Montagnier-lah yang dikukuhkan sebagai penemu HIV. Pengakuan itu justru diberikan oleh NIH, tempat Gallo bekerja. Gallo sendiri malah divonis Badan Integritas Riset (ORI) yang dibentuk Depkes AS melakukan manipulasi ilmiah (scientific misconduct). Namun, dalam pengadilan banding 12 November 1993, Gallo dinyatakan tidak bersalah oleh Panel Banding Integritas Riset (RIAP). Tak urung reputasi keilmuwanan Gallo sudah telanjur hancur.

Yang jelas, sejak awal praduga Gallo tentang HIV itu serumpun dengan HTLV I dan II yang menyebabkan limfosit berkembang liar menjadi leukemia sudah salah karena Montagnier dan timnya justru mengamati bahwa LAV atau HIV justru membunuh sel-sel limfosit yang diinfeksinya. Sel-sel inang itu terlihat "bunuh diri" atau lazim disebut fenomena aptosis.

Pelajaran yang dapat dipetik dari drama penemuan HIV adalah bahwa integritas ilmiah modal utama ilmuwan. Genius saja seperti Gallo ternyata tidak cukup. Namun, betapapun Gallo tetap berjasa, meletakkan anak tangga temuan teknik isolasi dan perbanyakan retrovirus sehingga Montagnier dan timnya dapat menapak anak tangga kemajuan ilmu berikutnya.

10 Ilmuwan Tergila dimuka bumi

Mereka dikenal karena otaknya genius, temuannya yang berpengaruh pada dunia. Selain itu mereka juga populer karena nyentrik, agak gila, dan penuh kontroversi. Siapa sajakah mereka? Berikut 10 ilmuwan paling gila menurut LiveScience.com

1. Albert Einstein
Parodi kartun dan komik tentang Einstein banyak dibuat hingga masa kini. Mulai dari rambutnya yang amburadul atau ekspresi wajahnya yang dibuat “melet” atau teorinya sekalipun. Tak bisa dibantah penemu teori relativitas ini sudah jadi selebriti dunia sains. Namanya bahkan identik dengan kata genius dan gila itu sendiri.

2. Leonardo da Vinci
Menyusul popularitas Einstein adalah Leonardo da Vinci. Novel Da Vinci Code, tokoh komik, isu bahwa ia gay adalah bukti bahwa seniman dan ilmuwan Italia ini memang sangat terkenal. Ia juga diketahui sangat nyentrik. Peninggalannya berupa tumpukan buku sketsa, aneka aplikasi teknologi, mesin, tetap abadi sepanjang masa.

3. Nikola Tesla
Kalau yang ini, namanya sempat dikenal sebagai sebuah kelompok musik rock. Sebenarnya sesuai, sebab penemu radio nirkabel dan generator AC inilah yang memulai era elektrik di akhir abad ke-19 dan awal abad 20. Tesla dianggap gila sebab berani mendemonstrasikan bagaimana ia memakai tubuhnya sebagai konduktor listrik.

4. James Lovelock
Dikenal sebagai ilmuwan berwawasan lingkungan dan penemu hipotesa Gaia. Konsep perubahan iklim yang kini diributkan banyak orang sudah diusungnya sejak beberapa dekade silam. Lelaki kelahiran 1919 ini pernah memprediksikan bahwa tahun 2100 akan terjadi kematian massal terhadap 80 persen umat manusia. Wow! Akan terbukti jugakah?

5. Jack Parsons
Jack Parsons dikenal sebagai salah satu pendiri Jet Propulsion Laboratory. Tapi sesungguhnya ia juga sibuk berlatih sulap dan menyebut dirinya Antikris. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi mampu mengembangkan bahan bakar roket dan sukses mengantarkan Amerika Serikat ke angkasa pada Perang Dunia II. Tragisnya, Parsons menembak dirinya sendiri sampai mati di laboratoriumnya tahun 1952.

6. Richard Feynman
Ia adalah bagian dari tim genius pengembang bom atom. Feynman menjadi salah satu ilmuwan terpenting di akhir abad ke-20. Selain dikenal sebagai profesor, ia juga suka mengeksplorasi musik, alam dan mempelajari hiroglif suku Maya.

7. Freeman Dyson
Tahun 1960, Dyson menelurkan ide bahwa di masa depan manusia harus mendesain cangkang buatan yang dinamakan Dyson Sphere. Cangkang ini akan mengelilingi sistem tata surya dan menggunakan energi matahari secara maksimum. Saat itu ia dianggap sebagai pemimpi fiksi ilmiah. Ia juga yakin adanya kehidupan di planet lain. Menurutnya manusia akan berinteraksi dengan mahluk angkasa luar dalam beberapa dekade mendatang.

8. Robert Oppenheimer
Dijuluki sebagai bapak bom atom, lelaki kelahiran 1904 ini juga memiliki pandangan politik sosialis. Ia punya ketertarikan khusus pada kultur Hindu dan bahasa Sansekerta dan Belanda. Oppie, begitu pangilan akrabnya, senang mengutip kitab Bhagavad Gita.

9. Wernher von Braun
Di usia 12 tahun, Braun meledakkan gudang mainannya dengan kembang api. Dari situlah muncul ide mengembangkan roket. Akhirnya ia ditunjuk sebagai pempimpin program roket oleh Hitler. Ternyata ia juga meminati eksplorasi bulan dan antariksa. Di sela waktu luangnya Braun juga senang membaca filsafat dan sesekali bermain scuba diving.

10. Johann Konrad Dippel
Lahir dan besar di kastil Frankenstein, Jerman, Dippel dikenal sebagai penemu bahan kimia sintetis bernama Prussian Blue. Ia mengklaim pernah menciptakan cairan hidup abadi. Kabarnya, percobaannya itu terinspirasi oleh karakter yangs esuai dengan nama kastil tempat ia lahir, Franskenstein.

Rabu, 08 April 2009

Penemuan Sinar-X

Penemuan Sinar-X

Di akhir tahun 1895, Roentgen (Wilhelm Conrad Roentgen, Jerman, 1845-1923), seorang profesor fisika dan rektor Universitas Wuerzburg di Jerman dengan sungguh-sungguh melakukan penelitian tabung sinar katoda. Ia membungkus tabung dengan suatu kertas hitam agar tidak terjadi kebocoran fotoluminesensi dari dalam tabung ke luar.
Lalu ia membuat ruang penelitian menjadi gelap. Pada saat membangkitkan sinar katoda, ia mengamati sesuatu yang di luar dugaan. Pelat fotoluminesensi yang ada di atas meja mulai berpendar di dalam kegelapan. Walaupun dijauhkan dari tabung, pelat tersebut tetap berpendar. Dijauhkan sampai lebih 1 m dari tabung, pelat masih tetap berpendar. Roentgen berpikir pasti ada jenis radiasi baru yang belum diketahui terjadi di dalam tabung sinar katoda dan membuat pelat fotoluminesensi berpendar. Radiasi ini disebut sinar-X yang maksudnya adalah radiasi yang belum diketahui.


Tahun 1895 itu Roentgen sendirian melakukan penelitian sinar-X dan meneliti sifat-sifatnya. Pada tahun itu juga Roentgen mempublikasikan laporan penelitiannya. Berikut ini adalah sifat-sifat sinar-X:
1. Sinar-X dipancarkan dari tempat yang paling kuat tersinari oleh sinar katoda.
2. Intensitas cahaya yang dihasilkan pelat fotoluminesensi, berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara titik terjadinya sinar-X dengan pelat fotoluminesensi. Meskipun pelat dijauhkan sekitar 2 m, cahaya masih dapat terdeteksi.
3. Sinar-X dapat menembus buku 1000 halaman tetapi hampir seluruhnya terserap oleh timbal setebal 1,5 mm.
4. Pelat fotografi sensitif terhadap sinar-X.
5. Ketika tangan terpapari sinar-X di atas pelat fotografi, maka akan tergambar foto tulang tersebut pada pelat fotografi.Skema peralatan ditampilkan pada Gambar 2. Foto tulang tangan yang diambil pada saat itu ditampilkan pada Gambar 3.
6. Lintasan sinar-X tidak dibelokkan oleh medan magnet (daya tembus dan lintasan yang tidak terbelokkan oleh medan magnet merupakan sifat yang membuat sinar-X berbeda dengan sinar katoda).

Laporan pertama Roentgen mengenai sinar-X dimuat pada halaman 132-141 laporan Asosiasi Fisika Medik Wuerzburg tahun 1895. Di awal tahun 1896 reprint laporan Roentgen dikirimkan kepada ilmuwan-ilmuwan terkenal. Karena tidak dibelokkan oleh medan magnet, maka orang tahu bahwa sinar-X berbeda dengan sinar katoda. Pada saat itu belum ditemukan fenomena interferensi dan difraksi. Karena itu muncullah persaingan antara teori partikel dengan teori gelombang untuk menjelaskan esensi/substansi sinar-X. Teori partikel dikemukakan antara lain oleh W.H. Bragg, teori gelombang dikemukakan antara lain oleh Stokes dan C.G. Barkla. Sejak saat itu teori gelombang didukung oleh lebih banyak orang. Pada tahun 1912, fenomena difraksi sinar-X oleh kristal ditemukan oleh Max von Laue dan kemudian dapat dipastikan bahwa sinar-X adalah gelombang elektromagnetik. Tahun 1922 Compton menemukan efek Compton berdasarkan penelitian hamburan Compton. Berdasarkan penelitian sinar-X ia dapat memastikan bahwa gelombang elektromagnetik memiliki sifat dualisme gelombang dan materi (partikel).

Penemuan Radioaktivitas Uranium.

Laporan Roentgen diperkenalkan kepada Akademi Paris pada Januari 1896 oleh Poankale yang merupakan ilmuwan Perancis terkemuka saat itu. Di dalam artikel Akademi waktu itu terdapat prediksi Poankale yang menyatakan bahwa materi yang berpendar dengan kuat memiliki kemungkinan untuk memancarkan sinar-X juga bersama sinar fluoresensi. Banyak dikenal materi yang berpendar karena stimulasi dari sinar matahari atau sinar lain. Becquerel (Antoine Henri Becquerel, Perancis, 1852-1908) yang merupakan profesor fisika di Museum Sains Paris berpikir untuk memastikan hal ini. Keluarga Becquerel sejak dari generasi kakek bekerja sebagai profesor fisika di Museum Sains, ayah Becquerel adalah peneliti materi pendar. Becquerel segera dapat melakukan penelitian menggunakan materi pendar yang dikumpulkan oleh ayahnya. Becquerel memasukkan pelat fotografi dan kain hitam ke dalam kotak aluminium. Dia berupaya agar pelat fotografi tidak mengalami perubahan walaupun kotak aluminium terkena sinar matahari. Dia meletakkan (mengoleskan) garam uraniumi di atas kotak aluminium, membiarkannya terkena sinar matahari selama beberapa jam, lalu memroses pelat fotografi itu. Jika oleh stimulasi sinar matahari sinar-X dipancarkan dari uranium, maka sinar-X yang menembus kain hitam dan aluminium pasti akan menghitamkan pelat fotografi. Ternyata memang pelat fotografi menjadi hitam seperti yang diperkirakan. Tetapi kembali terjadi hal yang tidak diperkirakan. Karena hari berawan berlangsung terus, Becquerel tidak dapat menggunakan sinar matahari seperti di atas. Becquerel memroses pelat fotografi dengan suatu pikiran untuk memastikan bahwa pelat tidak akan menjadi hitam karena tidak terkena sinar matahari. Tetapi pelat tetap menjadi hitam walaupun kotak tidak terkena sinar matahari. Becquerel menemukan fakta ini pada Maret 1896. Setelah melakukan percobaan dengan meletakkan berbagai materi di atas pelat fotografi, ia mengetahui bahwa sifat materi pendar dan bentuk kimia tidak mempunyai pengaruh dalam hal ini. Semua materi yang mengandung uranium pasti dapat menghitamkan pelat fotografi. Khususnya dalam hal logam uranium, tingkat kehitamannya besar. Becquerel berpikir bahwa dari uranium terpancar radiasi yang mirip dengan sinar-X. Untuk sementara sinar ini disebut sinar Becquerel. Kesamaan sifat antara sinar Becquerel dengan sinar-X, selain sama-sama dapat menghitamkan pelat fotografi, adalah keduanya dapat mengionkan udara.

Penemuan Polonium dan Radium.

Marie Sklodowska Curie (Polandia-Perancis, 1867-1934) menikah dengan Pierre Curie (Perancis, 1859-1906) dan siap memulai kehidupan seorang peneliti dengan meneliti sinar Becquerel sebagai tema penelitian untuk mendapatkan gelar akademik. Pierre yang saat itu sudah menjadi salah satu peneliti terkemuka bermaksud membantu istrinya dengan menyarankan pemakaian alat ukur arus yang sangat sensitif (Galvanometer Feebles). Marie Curie menggunakan alat ukur arus yang sangat sensitif dan melakukan pengukuran secara kuantitatif radioaktivitas (kemampuan melepaskan radiasi) dari materi yang dapat ia peroleh. Hanya materi yang mengandung uranium atau thorium yang menunjukkan radioaktivitas. Berdasarkan pengukuran secara kuantitatif diketahui bahwa radioaktivitas berbanding lurus dengan jumlah uranium atau thorium, sedangkan suhu serta bentuk kimia dari materi tidak berpengaruh. Tetapi disinipun teramati sesuatu yang di luar dugaan. Dua bahan tambang uranium yaitu pitch blend (uranium oksida) dan shell corit (tembaga dan uranil) menunjukkan radioaktivitas yang besar yang tidak dapat dijelaskan dengan jumlah uranium yang ada di dalamnya. Marie Curie mencampur shell corit dengan bahan lain dan kemudian melakukan pengukuran. Ternyata hanya bagian yang mengandung uranium yang menunjukkan adanya radioaktivitas. Fakta ini dilaporkan di Akademi Sains Paris bulan April 1898. Marie Curie berpikir bahwa di dalam batuan uranium alam terdapat unsur yang belum diketahui dalam jumlah yang sangat sedikit, dan setelah itu ia lebih serius lagi menemukan unsur radioaktif yang belum diketahui. Pierre kemudian berhenti melakukan penelitiannya sendiri untuk bekerja sama dengan Marie menemukan unsur baru. (Pierre terus melakukan penelitian radioaktivitas sebelum meninggal pada tahun 1906 karena kecelakaan). Batuan dalam jumlah besar dilarutkan dan dilakukan pemisahan dengan prosedur analisis kimia. Radioaktivitas dari bagian yang terpisah diukur dengan alat ukur listrik yang dikonsentrasikan pada bagian yang memiliki radioaktivitas tinggi. Unsur radioaktif yang belum diketahui itu menunjukkan sifat yang mirip dengan bismuth. Bagian yang terambil ini ternyata merupakan campuran antara bismuth sulfat dan bahan radioaktif dalam bentuk sulfat. Pemisahan antara bismuth dan unsur yang belum diketahui itu dapat dilakukan berdasarkan perbedaan sifat sublimasinya. Bahan campuran itu dipanaskan dalam vakum pada suhu 700° C dan dibiarkan menyublim, dalam suhu 250°-300° C bahan radioaktif dalam bentuk sulfat itu menempel pada dinding seperti cat berwarna hitam. Beginilah cara penemuan salah satu unsur radioaktif yang belum diketahui. Pada Juni 1898 laporan atas nama suami-istri Curie disampaikan kepada Akademi. Dalam laporan ini diusulkan nama Polonium untuk unsur baru sesuai dengan nama negara kelahiran Marie Curie. Dari analisis juga ditemukan adanya radioaktifitas yang kuat di dalam kelompok barium, secara kimiawi sifatnya sama dengan barium. Pemisahan bagian yang memiliki radioaktivitas dengan cara pemisahan kristal berdasarkan perbedaan kelarutan dalam air, campuran air dan alkohol, kelarutan garam dalam larutan asam klorida. Dengan cara seperti inilah unsur radioaktif radium ditemukan. Penemuan ini dipresentasikan pada bulan September 1898 sebagai hasil penelitian bersama suami-istri Curie dan rekan sekerja Pemon.

Penemuan Sinar Kosmis.

Muatan listrik yang diberikan kepada kamar ionisasi akan berkurang (discharge) seiring dengan berjalannya waktu. Pada mulanya, gejala ini diperkirakan karena tidak sempurnanya isolasi. Geitell (1900) dan C.T.R. Wilson menemukan bahwa penyebabnya bukan karena tidak sempurnanya isolasi melainkan karena ionisasi udara di dalam kamar ionisasi. Bagaimana ionisasi bisa terjadi? Pertama, diperkirakan penyebabnya adalah radiasi dari dinding dalam atau gas pengisi (dari nuklida radioaktif alam yang terkandung di dalamnya). Melalui pemilihan bahan untuk dinding dan gas isian, pelepasan muatan listrik sangat berkurang tetapi tidak hilang sama sekali. Berikutnya diperkirakan radiasi dari bahan (udara dan tanah) di sekitar kamar ionisasi yang menyebabkan ionisasi udara dalam kamar ionisasi. Namun ionisasi sama sekali tidak hilang walaupun kamar ionisasi sudah dilingkupi seluruhnya dengan air atau timbal. C.T.R. Wilson (1901) dan Richardson (1906) memperkirakan penyebab ionisasi adalah radiasi dari luar bumi yang memiliki daya tembus tinggi.
Mereka melakukan berbagai pengamatan. Sekitar tahun 1910 terdapat hasil penelitian yang mendukung perkiraan tersebut. Ionisasi tingkat tinggi tidak dapat dijelaskan hanya dengan nuklida radioaktif yang berada di dalam tanah. Jika kamar ionisasi semakin dijauhkan dari permukaan bumi, maka ionisasi dalam kamar ionisasi pasti berkurang karena radiasi dari nuklida dalam tanah terserap oleh udara. Bergwitz (1910), Mc Lenna dan Macallum (1911) melakukan penelitian semacam itu tetapi pengurangan jumlah ionisasi lebih kecil daripada yang diperkirakan. Wulf (1909) melakukan penelitian yang sama di menara Eiffel dan ia menemukan jumlah ionisasi 6 kali lebih banyak, dan ini bertentangan dengan perkiraan adanya serapan radiasi dari tanah oleh udara. Ia beranggapan bahwa sumber sinar gamma ada di lapisan atas atmosfir atau serapan radiasi oleh udara lebih kecil daripada yang diperkirakan. Gockel (1910) melangkah lebih jauh dengan melakukan pengukuran jumlah ionisasi dengan kamar ionisasi yang dinaikkan pada balon udara hingga ketinggian 4500 m. Dengan demikian menjadi jelas bahwa jumlah ionisasi meningkat dengan ketinggian. Radiasi dari tanah pasti tidak akan mencapai ketinggian seperti ini, dan dengan demikian diketahui adanya sumber radiasi lain di lapisan atas udara. Gockel beranggapan penyebab lepasan muatan listrik adalah gas radioaktif hasil peluruhan inti radioaktif yang terakumulasi pada lapisan atas atmosfir. Dengan ini penjelasan terhadap hasil pengamatan sedikit mengalami kemajuan.


Pengamatan dengan balon udara.

Adalah Hess (Austria) yang memperjelas keberadaan radiasi kosmik. Dia melakukan pengamatan dengan meletakkan kamar ionisasi pada balon udara seperti yang dilakukan Gockel. Pertama, pengukuran dilakukan hingga ketinggian 1070 m (tahun 1911), intensitas radiasi tidak begitu berbeda dengan intensitas pada permukaan bumi. Berikutnya, pengukuran dilakukan hingga ketinggian 5350 m (1912), pada altitude rendah jumlah ionisasi berkurang tetapi di ketinggian sekitar 800 m jumlah ionisasi mulai meningkat, pada ketinggian 4000 m jumlahnya sekitar 6 kali lipat dari nilai di permukaan bumi), pada 5000 m sekitar 9 kali lipat. Hasil seperti ini tidak dapat dijelaskan dengan adanya akumulasi gas radioaktif, dan disimpulkan bagaimanapun juga terdapat sejenis radiasi yang datang dari luar bumi. Dan bila memang demikian, radiasi ini memiliki daya tembus sangat tinggi. Mengapa? Dari luar bumi hingga ketinggian 5000 m di atas permukaan bumi terdapat lapisan yang setara dengan 5 - 6 m air. Ekivelen dengan itu, sampai ke permukaan bumi terdapat lapisan yang setara dengan 10 m air. Radiasi dari luar bumi ini menembus lapisan setebal ini hingga sampai di bumi. Kalau sinar-X atau gamma hampir seluruhnya dapat diserap oleh air dengan ketebalan 1 m, maka dapat dibayangkan daya tembus radiasi dari luar bumi ini. Radiasi dari luar bumi ini di Jerman disebut "radiasi tempat tinggi", "radiasi Hess", di Inggris disebut "radiasi kosmik" dan sekarang ini digunakan nama "radiasi kosmik". Setelah itu, radiasi kosmik yang berenergi tinggi menarik perhatian ahli fisika di seluruh dunia untuk melakukan penelitian.

Pengamatan sifat radiasi kosmik.

Koehoerster (1913; 1914) secara teliti melakukan pengukuran hingga ketinggian 9300 m, intensitas ionisasi radiasi kosmik pada ketinggian ini 50 kali lipat daripada di permukaan bumi. Koefisien serapan radiasi kosmik oleh udara diperoleh sebesar 1x10-5 cm-1 (sekitar 1/5 dari sinar gamma dari Ra-C). Pada tahun 1925, Millikan dan Cameron menemukan koefisien serapan sinar kosmik oleh air 1,8~3,0 x 10-3 cm-1, nilai yang diperoleh Kolhoerster 2,5x10-3 cm-1 dan dengan demikian keberadaan sinar kosmik dapat dipastikan. Kolhoerster (1933) memastikan keberadaan sinar kosmik dengan tabung Geiger Mueller pada kedalaman 1000 m di bawah air. Clay (1927) dan Compton (1930) melakukan pengamatan secara meluas di atas permukaan bumi. Dipastikan bahwa intensitas radiasi di sekitar katulistiwa sangat kecil (efek posisi lintang). Radiasi kosmik primer yang memasuki atmosfir bumi bermuatan listrik, partikel kecil yang memiliki momentum kecil akan dihamburkan balik oleh medan magnet bumi, demikian penjelasan Stormer (1930), Lemaitree dan Vallarta (1933). Garis besar efek medan magnet bumi terhadap sinar kosmik ditampilkan pada Gambar 5.

Penemuan partikel baru.

Pada tahun 1927, Skobelzyn untuk pertama kali mengamati lintasan sinar kosmik dengan menggunakan kamar-kabut Wilson. Berikutnya Anderson (1932) meletakkan kamar-kabut Wilson pada medan magnet kuat. Ia mengamati adanya lingkungan radiasi kosmik dan ia mengukur besarnya energi berdasarkan foto yang diambil. Dengan cara seperti ini lintasan partikel kosmik yang hampir sama dengan lintasan elektron dalam medan magnet tetapi arahnya berbalikan. Inilah penemuan positron, dan hal ini memberi sokongan kepada perkembangan mekanika kuantum relativistik berdasarkan teori kuantum yang disampaikan Dirac pada saat itu. Street dan Stevenson (1937) pada tahun 1947 menemukan lingkungan lintasan partikel yang terhenti di dalam kamar-kabut yang diberi medan magnet, dan massanya terukur sekitar 10 kali lipat massa elektron. Inilah penemuan partikel meson.


SINAR ALPHA, BETA, GAMMA

Penemuan radiasi yang sifatnya berbeda.

Thomson (Joseph John Thomson) melakukan penelitian sinar katoda di pusat penelitian Cavendish di Universitas Cambridge dan menemukan elektron yang merupakan salah satu pembentuk struktur dasar materi. Pada tahun 1895 datanglah Ernest Rutherford, seorang kelahiran Selandia Baru yang bermigrasi ke Inggris, untuk bekerja di bawah bimbingan J.J. Thomson. Pada mulanya Rutherford tertarik kepada efek radioaktivitas dan sinar-X terhadap konduktivitas listrik udara. Partikel (radiasi) berenergi tinggi yang dipancarkan oleh bahan radioaktif menumbuk dan melepaskan elektron dari atom yang ada di udara, dan inilah yang menghantarkan arus listrik. Setelah mengadakan penelitian bersama dengan J.J. Thomson, pada tahun 1898 Rutherford menunjukkan bahwa sinar-X dan radiasi yang dipancarkan oleh materi radioaktif pada dasarnya bertingkah laku sama. Selain itu berdasarkan pengukuran serapan materi terhadap radiasi yang dipancarkan oleh materi radioaktif seperti uranium atau thorium, ia menyatakan paling sedikit ada 2 jenis radiasi yang dipancarkan oleh bahan radioaktif alam uranium dan thorium. Satu memiliki daya ionisasi yang sangat besar, karena itu mudah diserap oleh materi, dapat dihentikan dengan kertas tipis, yang satu lagi memiliki daya ionisasi yang lebih kecil dan daya tembus yang besar. Menggunakan dua huruf pertama abjad Yunani, yang pertama disebut radiasi alpha, yang kedua radiasi Beta. Selain itu juga diketahui adanya radiasi yang memiliki daya tembus lebih besar dari pada Beta, dan radiasi ini disebut radiasi Gamma. Garis besar sifat radiasi Alpha, Beta dan Gamma ditunjukkan pada Gambar 6. Radiasi alpha dapat ditahan dengan selembar kertas, Beta dengan 1 mm aluminium, Gamma dengan 1,5 cm timbal (Gambar 7).

World Science Forum

Dr. Lieke Riadi, Wakil Rektor I Universitas Surabaya, yang juga Fellow LEAD, bulan November lalu mengikuti World Science Forum di Budapest. Berikut ‘oleh-oleh’ dari Ibu Lieke, seperti yang disampaikannya kepada LEAD Indonesia.

World Science Forum merupakan Forum bertemunya ilmuwan-ilmuwan terkenal di dunia, pemenang Nobel Laureate dan para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan yang diadakan tiap 2 tahun sekali dengan dukungan dari UNESCO dan ICSU (International Council of Science), dan selalu bertempat di Budapest, Hungaria. Forum ini diadakan pertama kali pada tahun 2003 di Budapest dan untuk yang kedua kali diadakan pada bulan November 2005. Di forum ini juga, berbagai penghargaan diberikan kepada mereka yang telah banyak memberikan kontribusi berarti bagi dunia sains.

Ada enam topik yang dibahas dalam forum yang sangat bergengsi ini:

  • The scientits’approach - The political decision makers’ approach;
  • Capacity building and implementation;
  • The approach of the business world;
  • The developing world;
  • The future of environment dan
  • Educating Future Generations.

    Pembicara-pembicara yang tampil untuk tiap-tiap topik adalah pembicara yang diundang dan dikenal telah banyak melakukan sesuatu di dunia sains. Pada kesempatan ini, Wakil Rektor I Universitas Surabaya, Dr. Lieke Riadi yang juga LEAD Indonesia Fellow mendapat kehormatan untuk menjadi pembicara pada sesi Educating Future Generations dengan bahasan yang lebih khusus yaitu Responsibility of Education, sekaligus terpilih untuk menyampaikan rekomendasi umum dan khusus serta kesimpulan untuk sesi tersebut di Gedung Parlemen Hungaria pada tanggal 12 November 2005.

    Berikut ini adalah hasil dari World Science Forum yang diadakan pada tanggal 10-12 November 2005.

    Sains sudah terbukti memegang peran besar dalam keputusan-keputusan yang diambil terkait dengan kebijakan publik sejak pengenalan bom atom sampai stem cells. Interaksi antara ilmuwan dan pengambil keputusan untuk kebijakan publik selama ini tidak pernah berjalan dengan mudah. Ilmuwan sering merasakan kebijakan publik yang dibuat tanpa pemahaman isu-isu sains yang semestinya. Sedangkan, para professional pembuat kebijakan dan pengambil keputusan kadang-kadang juga cenderung untuk mengabaikan pandangan ilmuwan karena dianggap terlalu sempit. Empat stakeholder yang terdiri dari ilmuwan, pembuat kebijakan , media, dan publik secara keseluruhan tidak dapat bekerja dengan nyaman satu dengan yang lainnya. Contohnya., proyek besar seperti US Manhattan Project (proyek pembuatan bom atom) yang melibatkan ketegangan antara ilmuwan dan politikus serta militer, dan pendaratan di bulan merupakan respon pengambil keputusan untuk hal-hal besar terkait dengan sains dan berfokus pada satu kejadian saja, saat ini sudah bukan lagi model yang terbaik.

    Human Genome Project merupakan contoh aktivitas sains yang dimulai dengan inisiatif pemerintah dengan melibatkan banyak ilmuwan dan ketika potensi penghargaan ekonomi mulai nampak, pihak industri swasta mulai memasuki area ini. Mitra yang setara antara penghasil pengetahuan dan pengguna pengetahuan yang ditujukan untuk menghasilkan interaksi yang humanistik, tidak saling mengeksploitasi dan berfokus pada interdependensi dan etika diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara sains dan bisnis.
    Di negara berkembang seperti Indonesia, untuk memperkuat kemitraan antara pendidikan dan bisnis , mutlak dibutuhkan pengembangan infrastruktur pendidikan, dan pendirian pusat-pusat dengan standar yang tinggi untuk keperluan akses informasi dan transfer pengetahuan yang optimal di tingkat regional.

    Dengan populasi global yang sudah melewati 6 milliar pada awal abad ini dan diperkirakan akan mencapai 9 milliar pada tahun 2050, yang hampir 90 % dari populasi ini berada di negara-negra berkembang, sains dihadapkan dengan keadaan untuk menemukan solusi dari masalah-masalah ini. Pembangunan kapasitas manusia di negara-negara berkembang menjadi isu penting karena sudah bertahun-tahun negara-negara ini dihadapkan dengan masalah ”brain drain’, hilangnya ilmuwan-ilmuwan hebat ke negara-negara yang lebih berkembang.

    Pengalaman Cina, India dan Korea Selatan sudah berhasil menunjukkan kemampuan untuk mengubah ”brain darin” menjadi ”brain gain” dan ”brain circulation” dengan membuat strategi yang efektif untuk menghubungkan ilmuwan-ilmuwannya yang tersebar untuk keuntungan negaranya. Pembangunan kapasitas manusia dan institusi harus diarahkan dengan kebijakan nasional yang memadai yang merupakan bagian terintegrasi dengan tujuan pembangunan nasional.

    Oleh karenanya, negara-negara berkembang harus mempunyai keyakinan bahwa investasi di sektor Pendidikan Tinggi dan penelitian ilmiah untuk pembangunan berkelanjutan, pengembangan ekonomi dan sosial adalah hal yang berharga. Mengapa? Dengan populasi yang sangat besar di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dengan penduduk yang hidup dalam kondisi ”dual economy”, ”dual society” yang dapat digambarkan sebagai ”dysfunctional world” dan pemakaian sumber daya alam yang berdampak pada polusi di buangan yang dihasilkan, upaya-upaya ”penyelamatan” dengan dukungan komunitas ilmuwan sangat dibutuhkan.

    Dalam jangka panjang, pendidikan yang memadai pada semua level akan membantu mengubah pemahaman kita tentang hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam. Akan sangat sulit terjadi pembangunan yang berkelanjutan tanpa adanya perubahan fundamental di pendidikan. Oleh sebab itu, untuk mendidik generasi mendatang dibutuhkan model yang dapat mengatasi akses yang tidak merata ke dunia sains dan pendidikan.

    Meningkatkan kapasitas generasi mendatang dengan memberi kesempatan bagi ilmuwan yang lebih berpengalaman dengan orang-orang muda untuk berinteraksi, berkomunikasi dan berbagi pandangan karena melalui cara-cara seperti ini, generasi mendatang dapat merasakan pentingnya untuk memperkuat kerja sama, membangun kepercayaan dan menemukan mentor yang baik, yang hasilnya tidak hanya akan membuat generasi muda menjadi aktif di bidang keilmuan, tetapi juga menjadi ilmuwan yang bertanggung jawab dengan hasil-hasil penemuan ilmiahnya dan memperoleh keuntungan dari kontibusi mereka yang unik.

    Sebagai penutup, kekhawatiran akan ancaman ke depan tentang apa yang terjadi jika pengambil keputusan menggunakan sains untuk hal yang membahayakan ? Apa yang terjadi jika eksplorasi alam dilakukan dengan tidak bertanggung jawab ? Apa jadinya jika penelitian uranium dipakai dalam sebuah proyek yang melibatkan banyak ilmuwan dan hasilnya digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Apa jadinya jika generasi mendatang tidak mampu menjadi penyelesai masalah untuk perubahan yang terus menerus ?

    Jawabnya terletak pada : ”It’s not a disaster of science, but it’s a disaster of mankind”. Oleh sebab itu, pengetahuan, etika dan tanggung jawab merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan yang perlu digaris bawahi adalah perlunya kerja sama antara ilmuwan, politikus, media dan masyarakat untuk memastikan bahwa keputusan-keputusan yang diambil dengan dukungan sains dilakukan untuk keberlanjutan kehidupan masa depan.

    (Oleh : Dr. Lieke Riadi)

  • Ilmuwan-ilmuwan Terkenal di Dunia (Bagian 2)

    SOBAT-SOBAT, minggu lalu Percil sudah menyajikan profil lmuwan-ilmuwan terkenal di dunia. Berikut ini adalah profil beberapa ilmuwan-ilmuwan lainnya. Kita simak yuuk...!

    John Dalton (1766-1844)

    Seorang tukang tenun yang miskin. Dia sudah mulai mengajar pada usia 12 tahun. Dalton menghabiskan sebagian besar umurnya di Kota Manchester, mengajar tata bahasa dan sains. Semula, minat utamanya adalah meteorologi. Dia terdorong untuk mempelajari perihal gas, sehingga pada akhirnya dia demikian terkenal dengan rumusan teori atomnya.

    Thomas Young (1773-1829)

    Seorang ilmuwan Inggris yang menekuni fisika, kedokteran dan peninggalan purbakala Mesir. Karyanya yang paling menonjol ialah dalam bidang optik, yaitu penemuan sifat gelombang cahaya melalui pengamatan peristiwa interferensi. Selain itu, dia juga mempelajari elastisitas dan gejala kapilaritas. Di bidang sejarah, dia juga ikut berperan dalam menjelaskan tulisan hieroglif Mesir yang ditulis dalam Rosetta Stone.

    Joseph Louis Gay-Lussac (1778-1850)

    Kimiawan asal Prancis, penemu Hukum Gay-Lussac, sianogen, hidrometer, alkoholmeter, pelopor penelitian sifat-sifat as dan teknik analisis kimia, serta salah seorang perintis meteorologi. Dia juga yang menerbangkan balon cuaca pertama di dunia. Setahun setelah lulus dari Politeknik Paris, ia ditawari pekerjaan oleh Claude-Louis Berthollet, seorang kimiawan Prancis yang terkemuka. Berthollet mempunyai laboratorium sendiri dan memimpin sekelompok ilmuwan muda di daerahnya. Gay-Lussac mengadakan banyak riset bersama Berthollet dan Pierre Simon Laplace, dua ilmuwan yang dibiayai dan dilindungi Napoleon Bonaparte.

    Michael Faraday (1791-1867)

    Ahli fisika dari Inggris. Eksperimennya sangat membantu dalam memahami elektromagnetisme. Mulanya dia adalah seorang ahli kimia yang banyak menemukan senyawa organik, di antaranya benzena, yang merupakan gas pertama yang dapat dicairkan dari wujud gas. Karyanya yang paling utama tentunya di bidang listrik magnet. Dialah yang pertama kali memperkenalkan arus listrik dari medan magnet dan dia juga yang menemukan dinamo.

    Nikola Tesla (1856-1943)

    Seorang ahli fisika, insinyur listrik, serta penemu motor dan AC dari Amerika kelahiran Serbia. Dia merupakan salah seorang pelopor dalam penggunaan listrik arus bolak-balik. Dia juga menemukan kumparan Tesla, suatu transformator yang ia temukan 1891, yang banyak sekali digunakan dalam radio, televisi, dan peralatan listrik lainnya.

    Albert Einstein (1879-1955)

    Ahli fisika Amerika-Jerman yang mengembangkan teori relativitas umum dan khusus. Dia memperoleh hadiah nobel di bidang fisika 1921, berkat penjelasannya tentang efek fotolistrik. Di awal abad ke-20, dia mengeluarkan sederetan teori yang mengajukan cara pandang baru tentanga ruang, waktu, dan gravitasi. Teorinya tentang relativitas dan gravitasi memberikan loncatan ke depan sekaligus merupakan revolusi terhadap pertanyaan filsafat dan sains.

    Irving Langmuir (1881-1957)

    Ahli kimia-fisika dari Amerika dan pemenang nobel berkat karyanya di berbagai bidang di kimia teori dan terapan. Penelitiannya di bidang fisika awan mengantarnya untuk membuat hujan buatan dengan menabur perak iodida dan karbondioksida pada awan hujan. Dia kembali memperoleh nobel, berkat penelitiannya mengenai film molekuler dan permukaan zat cair, yang membuat terbukanya bidang baru dalam penelitian tentang koloid dan biokimia. Selain itu, dia juga seorang penemu kawat pijar.(Friendy Dhimas Pantodja, kelas II SDN Krida Winaya 2 Jln. Gumuruh Blk No. 37 Bandung 40275/Sumber: Ensiklopedia)***

    Ilmuwan-ilmuwan Terkenal di Dunia (Bagian I)

    KEMAJUAN suatu ilmu akan mempunyai arti apabila seorang ilmuwan mampu mengomunikasikan penemuannya kepada ilmuwan-ilmuwan lainnya melalui suatu penjelasan yang dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang jika para ilmuwan mendiamkan hasil penelitiannya dan tidak mewariskan ilmunya kepada generasi selanjutnya.

    Nah sobat Percil, untuk menambah pengetahuan, kali ini kita akan mengupas tuntas profil tokoh-tokoh yang berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Siapa saja mereka, kita kupas yuuuk...

    Galileo Galilei (1564-1642)

    Seorang ahli fisika, filsafat, astronomi, dan matematika alami dari Italia yang memberikan andil mendasar dalam bidang gerak, astronomi, kekuatan bahan, dan sampai perkembangan metode saintifik. Perumusannya tentang inersia, hukum benda jatuh bebas, dan lintasan parabola merupakan awal dari perubahan mendasar dalam pelajaran tentang gerak. Dia juga yang mengatakan bahwa buku alam harus ditulis dalam kalimat matematika sehingga mengubah filsafat yang biasa diungkapkan hanya dengan kata-kata menjadi kalimat matematika. Pada akhirnya, penemuan teleskopnya membuat revolusi di bidang astronomi, dan membuka jalan baru terhadap diterimanya sistem heliosentris dari Copernicus. Dengan teleskop tersebut, dia dapat mengamati bintik matahari, lembah, dan gunung di permukaan bulan, keempat satelit terbesar dari planet Yupiter, dan fase-fase planet Venus. Selain teleskop, Galileo juga yang menemukan termometer.

    Marin Mersenne (1588-1648)

    Seorang ahli matematika, filsafat, dan teologi dari Prancis. Di bidang fisika, dia mencoba mengukur kecepatan-kecepatan bunyi dengan menggunakan echo (gema). Selain itu, dia juga mengukur frekuensi gelombang pada dawai. Di bidang matematika, dia menemukan perumusan untuk mencari bilangan prima.

    Sir Issac Newton (1624-1777)

    Seorang ahli fisika dan matematika dari Inggris. Karyanya yang sangat menonjol di bidang fisika adalah hukum-hukum tentang gerak dan hukum gravitasi universal. Selain itu, dia juga berperan di bidang optik. Di bidang matematika, dia banyak menekuni kalkulus.

    Robert Boyle (1627-1691)

    Seorang ahli filsafat alami, penulis teologi Inggris dan merupakan tokoh dari abad ke-17 yang disegani. Dia lebih dikenal sebagai ahli filsafat, khususnya di bidang kimia, tetapi karyanya meliputi berbagai disiplin ilmu, yaitu hidrostatis, fisika, ilmu bumi, sejarah alam, dan kimia nonsains. Dia terkenal berkat penemuan Hukum Boyle. Dia termasuk orang yang disegani dalam pembentukan Royal Society "Invisible College", suatu organisasi yang dikhususkan untuk pengembangan sains. Dia juga seorang pelopor dalam menggunakan eksperimen dan metoda sains untuk menguji teorinya. Dia juga yang menemukan korek api.

    Andreas Celsius (1701-1744)

    Ahli astronomi Swedia. Dialah yang mengusulkan Termometer Celsius yang membagi antara titik beku air dan titik didih air menjadi 100 skala. Sebagai penghargaan, satuan temperaturnya yaitu derajat Celsius, diambil dari namanya.

    James Watt (1736-1819)

    Seorang penemu dari Skotlandia. Karyanya yang paling terkenal ialah penyempurnaan mesin uap yang telah dibuat oleh Thomas Savery dan Thomas Newcomen dari Inggris, sehingga dapat digunakan untuk memompa air dari sumur. Selain itu, dia juga banyak terlibat dalam pembuatan saluran air. Namanya diabadikan sebagai satuan daya, yaitu watt yang setara dengan joule per sekon.

    Antoine Laurent Lavoister (1743-1794)

    Kimiawan Prancis yang dijuluki Bapak Kimia Modern. Dia yang mengusulkan tata nama kimia, menemukan perbedaan unsur dan senyawa, menulis buku pelajaran kimia pertama. Dia juga yang mula-mula mengetahui pentingnya oksigen untuk pernapasan dan pembakaran. Selain menguasai ilmu kimia, dia juga ahli ekonomi, ahli pertanian, ahli eksperimen, dan seorang pegawai pemerintahan yang brilian. Sejak kecil ia menderita penyakit pencernaan yang kronis. Dia terpaksa banyak tinggal di rumah. Namun, dia pantang menyerah. Dia mempelajari banyak hal dan selalu ingin memperbaiki keadaan dalam keterbatasannya. Pada usia 23 tahun, dia menulis esai mengenai penerangan kota. Esai cemerlangnya itu mendapatkan penghargaan berupa medali emas dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Prancis. Dia diangkat sebagai anggota lembaga itu pada usia 25 tahun. (Friendy Dhimas Pantodja, kelas II 2 SDN Krida Winaya 2 Bandung)

    Rabu, 04 Februari 2009

    Sekilas Ufo

    INILAH.COM, Jakarta – Kontak pada makhluk pintar di luar bumi sudah dilakukan nenek moyang kita sebelum munculnya demam UFO. Ilmuwan sudah melakukan komunikasi 150 tahun sebelum pengiriman sinyal radio ke luar angkasa pada 1974.

    Percobaan komunikasi di masa lalu berdasarkan pada sinyal visual. "Manusia melakukan dengan pengetahuan yang dimiliki pada saat itu," kata Steven Dick, kepala ahli sejarah NASA.

    Pada dua ribu tahun lalu, orang Yunani sudah melihat adanya kehidupan di planet lain. Tapi pemikiran itu baru popular setelah revolusi Copernicus.

    “Setelah diketahui planet mengitari matahari, menjadi mudah membayangkan planet lain akan serupa dengan bumi,” kata Dick.

    Galileo, Kepler dan ilmuwan lain yakin ada planet lain yang bisa dihuni, meskipun sangat berhati-hati agar tidak menyinggung pihak rohaniawan. "Pemikiran itu bersemi pada abad 17 tapi masih menjadi kontroversi," kata Dick yang menulis beberapa buku mengenai hal itu.

    Salah satu pendukung kehidupan makhluk luar angkasa adalah Bernard le Bovier de Fontenelle yang menulis di Conversations on the Plurality of Worlds pada 1686. Tapi belum ada catatan bagaimana manusia masa lalu mencari atau menghubungi makhluk di luar bumi.

    "Pada awal abad 19, ilmuwan menggunakan sky telegraph untuk berkomunikasi dengan planet yang diperkirakan berpenghuni,” kata Raulin-Cerceau yang menulis di majalah Prancis Pour la Science.

    Ilmuwan pembuat perangkat itu pertama adalah Carl Friedrich Gauss, seorang ahli matematika Jerman. Pada 1820 ia berbicara pada pantulan sinar matahari yang diarahkan ke suatu planet tertentu, melalui perangkat yang dinamakan heliotrope. Dia juga yang memiliki ide untuk membuat segitiga raksasa di hutan Siberia dan menaruh tepung di dalamnya.

    "Warna yang kontras itu seharusnya bisa dilihat dari bulan atau Mars dan bentuk geometis akan diartikan sebagai hal yang dibuat secara sengaja,” tulis Raulin-Cerceau.

    Dua puluh tahun berikutnya astronomer Joseph von Littrow memiliki ide serupa dengan menaruh minyak bakar ke kanal berbentuk lingkaran sejauh 30 km yang dinyalakan di malam hari untuk memberi tanda.

    Jari Panjang, Sukses Jadi Pialang

    Jari Panjang, Sukses Jadi Pialang
    Budi Winoto

    (istimewa)

    INILAH.COM, Jakarta– Panjang jari manis manusia mungkin bisa memprediksikan kesuksesan sebagai pialang saham. Peneliti di Universitas Cambridge di Inggris melaporkan, orang yang memiliki jari manis panjang cenderung lebih sukses di bursa saham.

    Penelitian itu dilaporkan oleh tim yang dipimpin physiologist John M Coates di National Academy of Sciences.

    Sebelumnya panjang jari manis juga diasosiasikan dengan keunggulan di bidang olah raga yang membutuhkan kompetisi keras semacam sepak bola atau basket.

    Rasio panjang antara dua jari, terjadi saat pengembangan fetus. Dan yang memiliki jari relatif lebih panjang menunjukkan kuatnya hormon androgen.

    Penelitian sebelumnya mendapati hormon itu meningkatkan percaya diri, keberanian mengambil resiko, pencarian yang tak kenal lelah, motivasi tinggi dan reksi yang cepat.

    Dalam penelitian terpisah tahun lalu, Coates dan sejawatnya melaporkan hormon yang mendorong agresifitas laki-laki dan ketertarikan seks juga mendorong kesuksesan di bidang keuangan.

    Penelititian terhadap pialang di bursa London itu dengan mengambil contoh ludah di waktu pagi dan malam. Mereka mendapati, bagi pialang yang memiliki tingkat testosteron tinggi di pagi hari, cenderung mendapat profit tinggi pada hari itu.

    Testosteron yang dikenal sebagai hormon seks laki-laki mempengaruhi agresifitas, kepercayaan diri dan keberanian mengambil resiko.

    Dalam penelitian baru itu, peneliti mengukur tangan kanan 44 pialang laki-laki yang berhubungan dengan transaksi yang berhubungan dengan keputusan dan reaksi fisik yang cepat.

    Selama 20 bulan, bagi yang memiliki jari lebih panjang membuat 11 kali lebih banyak uang dibandingkan yang berjari pendek. Sedangkan pialang yang paling berpengalaman membuat 9 kali lebih banyak dibandingkan yang kurang